“Amal tanpa keikhlasan dan tanpa ittiba’ (mengikuti tuntunan Rasul) adalah seperti musafir yang mengisi kantongnya dengan pasir: memberatkan tapi tidak memberi manfaat.” (Ibnul Qayyim Al Jauziy)
Oleh: Ali Sumitro, S.Ag., M.Pd.I
Keikhlasan adalah ruh dari setiap amal perbuatan. Dalam konteks pendidikan, seorang murabbi yang mengajar tanpa dibarengi dengan keikhlasan maka akan mudah kecewa ketika hasil tak tampak, ketika murid tak berubah, ketika lelah tak dihargai. Namun ketika bekerja dengan niat yang lurus karena Allah, maka setiap tetes keringat menjadi ibadah, setiap senyuman menjadi amal jariah.
Murabbi yang ikhlas tak terikat pada pujian dan penghargaan. Ia sadar bahwa pekerjaannya adalah bagian dari pengabdian. Ia tak haus akan sorotan, karena ia tahu bahwa Allah-lah sebaik-baik penilai. Bahkan dalam keterbatasannya, ia terus memberi, karena yang ia cari bukan balasan dunia, melainkan ridha Ilahi.
Keikhlasan adalah ruh dari setiap amal, dan bagi seorang murabbi, ia adalah bahan bakar perjalanan panjang yang sunyi dan melelahkan. Pengabdian murabbi bukanlah karena upah, pujian, atau prestise. Ia hadir karena panggilan jiwa, cinta kepada ilmu, dan keinginan untuk melihat manusia kembali kepada fitrahnya. Murabbi sejati tidak sekadar bekerja, ia mengabdi.
Murabbi bekerja di balik layar. Ia jarang disebut namanya, sering dilupakan perannya, namun tanpa dirinya, bangunan umat akan runtuh. Ia tidak memegang kekuasaan, tetapi membentuk para pemegang kekuasaan. Ia tidak terkenal, tetapi mengenalkan banyak orang pada kebenaran.
Seperti petani yang menanam benih dan bersabar menunggu musim panen, murabbi menabur nilai hari demi hari, dengan sabar, tanpa tahu kapan hasil akan datang. Kadang ia tidak sempat menyaksikan buah dari perjuangannya. Tapi ia yakin, Tuhan takkan menyia-nyiakan air mata dan keringat yang tertumpah karena cinta-Nya.
“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 120)
Ikhlas bukan sekadar niat awal, tapi perjuangan sepanjang amal. Murabbi diuji dengan banyak hal: ketidakadilan, murid yang bandel, orang tua yang tidak mendukung, gaji yang kecil, hingga lelah fisik dan batin. Tapi keikhlasan membuatnya tetap berjalan—bukan karena dunia membalas, tapi karena ia percaya Allah menyaksikan.
Ikhlas membuat murabbi tidak terikat pada hasil sesaat. Ia tidak mendidik agar muridnya menjadi sukses duniawi semata, tapi agar mereka selamat dunia dan akhirat.
Dalam dunia yang mengagungkan popularitas dan pengakuan, murabbi berjalan dengan bekal ikhlas. Ia tidak menanam untuk dipuji, tapi agar Allah ridha. Keikhlasan adalah bahan bakar ruhani yang membuat seorang murabbi tetap kuat meski dihina, tetap tersenyum meski diabaikan, dan tetap bekerja meski hasilnya belum tampak.
Keikhlasan inilah yang membuat ajaran Nabi Muhammad mampu bertahan dan menyinari dunia, karena beliau tidak pernah meminta bayaran dari umatnya: “Aku tidak meminta upah kepada kalian atas dakwah ini…” (QS. Al-An’am: 90).
