Oleh: Ali Sumitro, S.Ag., M.Pd.I
Al-Qur’an tidak secara eksplisit menyebut kata “murabbi” sebagai profesi, tetapi seluruh misi kenabian dan pembinaan umat oleh para rasul mencerminkan peran ideal seorang murabbi.
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)
Ayat ini menunjukkan hakikat pertama pendidikan dalam Islam: menumbuhkan kesadaran ubudiyyah (penghambaan kepada Allah). Maka murabbi sejati adalah mereka yang mendidik bukan sekadar agar anak didik “mengetahui”, tapi agar mereka “menyadari”, siapa dirinya, kepada siapa ia tunduk, dan apa tujuan hidupnya.
Dalam QS. Al-Jumu’ah:2, Allah menyatakan:
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan hikmah…” (QS. Al-Jumu’ah: 2)
Inilah metodologi murabbi Qur’ani: pendidikan ruhani (tazkiyah) bahkan didahulukan dari pendidikan kognitif. Murabbi bukan hanya mengisi kepala, tetapi menyucikan hati dan membentuk karakter. Di sinilah letak keluhuran filosofi murabbi: ia bekerja pada lapisan terdalam manusia — yaitu qalb (hati) — tempat keputusan moral dan spiritual dibuat.
Allah menyampaikan konsep tarbiyah dalam banyak ayat secara implisit maupun eksplisit. Kisah Luqman dan anaknya dalam QS. Luqman:12–19, misalnya, adalah potret pendidikan yang sarat dengan nilai-nilai murabbawi: dimulai dengan menanamkan tauhid, membangun kesadaran terhadap Allah, hingga mengajarkan adab dan kesabaran. Luqman bukan hanya memberi nasihat, tetapi memberi arah hidup. Ia tidak hanya berbicara, tetapi hadir secara spiritual dalam tumbuhnya anak.
Demikian pula dengan Nabi Ibrahim ketika membangun Ka’bah bersama Ismail seraya berdoa:
“Ya Rabb kami, jadikanlah kami orang-orang yang tunduk kepada-Mu dan (jadikanlah) di antara keturunan kami umat yang tunduk kepada-Mu…” (QS. Al-Baqarah: 128).
Ini menunjukkan bahwa proses membina generasi bukanlah pekerjaan teknis, tapi upaya ruhani yang terus dibarengi dengan doa.
